Sabtu, 14 Juli 2012

Leukemia

 A.    SEL DARAH PUTIH

Sel darah putih atau leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit sebagian dibentuk di sumsum tulang(granulosit, monosit, serta sedikit limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe(limfosit dari sel-sel plasma).setelah dibentuk, sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan. Manfaat sesungguhnya sel darah putih adalah sesungguhnya ditranspor secara khusus ke daerah yang mengalami infeksi dan peradangan serius. Jadi, sel darah putih menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap bahan infeksius yang ada. Granulosit(neutrofil, eosinofil, dan basofil) dan monosit mempunyai kemampuan khusus untuk mencari dan merusak setiap benda asing yang menyerbu. Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme penyerang terutama dengan cara mencernakannya, yaitu melalui fagositosis. Fungsi utama limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan sistem imun.
Granulosit dan monosit hanya ditemukan pada sumsum tulang. Limfosit dan sel plasma terutama diproduksi dalam berbagai organ limfogen, termasuk kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil, dan berbagai kantong jaringan limfoid di mana saja dalam tubuh, terutama dalam sumsum tulang dan plak Peyer di bawah epitel dinding usus. Sel darah putih yang dibentuk dalam sumsum tulang, terutama granulosit, disimpan dalam sumsum sampai mereka diperlukan di sistem sirkulasi. Dalam keadaan normal, granulosit yang bersikulasi dalam seluruh darah kira-kira tiga kali jumlah yang disimpan dalam sumsum. Limfosit sebagian besar disimpan dalam berbagai area jaringan limfoid kecuali pada sedikit limfosit yang secra temporer diangkut dalam darah.
            Sel-sel darah putih mengalami suatu fase proliferasi(pembelahan) mitotik, diikuti oleh fase pematangan. Waktu yang diperlukan bervariasi dari 9 hari untuk eosinofil sampai 12 hari untuk neutrofil. Semua fase ini akan mengalami pertambahn kecepatan selama terjadi infeksi. Di dalam sumsum tulang, setelah sel menjadi matang, sel tersebut menjadi lebih kecil, intinya berbenruk bulat atau oval dan memiliki dua sampai lima lobus, dikelilingi oleh sitoplasma yang mengandung granula halus yang tersebar merat. Granula ini mengandung enzim(seperti mieloperoksidase, muramidase, dan kation protein antibakteri) yang pada degranulasi sel darah putih, membunuh dan mencernakan bakteri. 
Macam-macam sel darah putih, yaitu:
1.      EOSINOFIL
Sel darah putih yang granulanya memiliki afinitas eosin disebut eosinofil. Eosinofil mempunyai fungsi fagosit lemah. Eosinofil kelihatannya berfungsi pada reaksi antigen-antibodi dan meningkat pada serangan asma, reaksi obat-obatan, dan infestasi parasit tertentu.
2.      BASOFIL
Sel darah putih ynag memiliki afinitas terhadap zat warna biru atau basa disebut basofil. Basofil membawa heparin, faktor pengaktifan histamin dan trombosit dalam granula-granulanya untuk menimbulkan peradangan pada jaringan. Kadar basofil yang meningkat(basofilia) ditemukan pada gangguan mieoloproliperatif, yaitu gangguan proliperatif dari sel pembentuk darah.
3.      NEUTROFIL
Neutrofil mempunyai granula yang disebut leukosit polimorfonuklear(PMN) mempunyai afinitas sedikit terhadap zat warna basa atau eosin dan memberi warna biru atau merah muda pucat yang dikelilingi oleh sitoplasma yang berwarna merah muda. Sumsum tulang mempunyai tempat penyimpanan cadngan yang tetap, kapasitasnya 10 kali jumlah neutrofil yang dihasilkan setiap hari. Bila timbul infeksi, neutrofil cadangan dimobilisasi dan dilepaskan ke dalam sirkulasi, di sana sel tersebut berdiam selama 6-8 jam kemudian ke jaringan. Neutrofil dalam sirkulasi dibagi antara kelompok sirkulasi dan kelompok marginal(sel darah putih terletak sepanjang dinding kapiler). Dengan gerakan seperti amuba, neutrofil bergerak dengan cara diapedesis dari kelompok marginal masuk ke dalam jaringan dan membran mukosa. Neutrofil merupakan sistem dalam pertahanan tubuh primer melawan infeksi bakteri. Metode pertahanannya adalah fagositosis.
4.      MONOSIT
Monosit lebih besar dari neutrofil dan memiliki inti monomorfik yang relatif sederhana. Intinya terlipat atau berlekuk dan kelihatan berlobus dengan lipatan seperti otak. Sitoplasma kelihatan jauh lebih banyak dibandingkan intinya dan menyerap warna biru keabuan yang tidak terlalu nyata, granulanya tersebar merata. Diferensiasi, pematangan, dan pelepasan monosit terjadi lebih dari 24 hari(suatu periode yang lebih lama dari granulosit). Monosit meninggalkan sirkulasi dan mejadi makrofag jaringan serta merupakan bagian dari sistem monosit-makrofag. Umur monosit adalah beberapa minggu sampai beberapa bulan. Monosit memiliki fungsi fagosit, membuang sel cedera dan mati, fragmen-fragmen sel, serta mikroorganisme(seperti pada endokarditis bakterial).
5.      LIMFOSIT
Limfosit adalah monosit mononukear lain(monomorfonuklear) dalam darah yang memilki inti bulat atau oval dan dikelilingai oleh pinggiran sitpolasma sempit berwarna biru yang mengandung sedikit granula. Bentuk kromatin inti sarat dengan jala-jala yang berhubungan di dalam. Limfosit bervariasi dalam ukuran, mulai dari kecil(7-10 μm) sampai besar, seukuran granulosit dan tampaknya berasal dari sel induk pluripoten di dalam sumsum tulang dan bermigrasi ke jaringan limfoid lain termasuk kelenjar getah bening, lien, timus, dan permukaan mukosa traktus gastrointestinal serta traktus respiratorius. Terdapat dua jenis limfosit mencakup limfosit T(bergantung timus, berumur panjang, dibentuk dalm timus) dan limfosit B(tidak bergantung timus). Limfosit T bermigrasi dari kelenjar timus ke jaringan limfoid lain. Sel ini secra khas ditemukan pada parakorteks kelenjar getah bening dan lembaran limfoid periarteriola dari pulpa puti lien. Limfosit B tersebar dalam folikel-folikel kelenjar getah bening. Limfosit T bertanggung jawab atas respon kekebalan seluler melalui pembentukan sel yang reaktif antigen, sedangkan limfosit B jika dirangsang dengan semestinya, berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan imunoglobulin. Sel ini bertanggung jawab atas respon kekebalan humoral(Catherine M. Baldy, 2005).

B.     LEUKIMIA
Leukimia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai dengan bentuk leukosit yang lain dari normal, jumlahnya berlebihan dan dapat menyebabkan anemia dan trombositopenia. Kelainan utama bukan di dalam darah, tetapi pada jaringan, yaitu beberapa jaringan tempat pembentukan sel darah dan kelainan pada jaringan tertentu akibat mengumpulnya sel leukimia.kecepatan proliferasi sel leukimia tidak lebih dari kecepatan proliferasi sel normal. Kelaina utama leukosit pada penderita leukimia adalah pematangannya. Selama tidak matang, sel tersbut mempunyai kemampuan untuk proliferasi. Walaupun proliferasinya lambat, mereka mempunyai sifat immortal sehingga makin lama makin banyak dan menumouk di jaringan. Leukimia menyerang kedua jenis kelamin, tetapi laki-laki terserang sedikit lebih banyak dibandingkan wanita(Zubairi Djoerban et. al, Harryanto 1990). 
1.      ETIOLOGI
a.   Faktor genetik
Jarang ditemukan leukimia familial, tetapi terdapat insiden leukimia yang lebih meningkat sampai 20% pada kembar monozigot(identik). Individu dengan kelainan kromosom, seperti sindrom Down, mempunyai insiden leukimia akut 20 kali lipat.
b.      Faktor Lingkungan
Pejanan dengan radiasi pergion dosis tinggi disertai manifestasi leukimia yang timbul bertahun-tahun kemudian.
c.       Zat-zat Kimia
Benzen, arsen, pestisida, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen antineoplastik meningkatkan frekuensi leukimia, khususnya agen-agen alkil. Leukimia meningkat pada penderita yang diobati dengan radiasi dan kemoterapi.
d.      Virus
Hasil penelitian yang menyokon virus sebgai penyebab leukimia: enzim reverse transcriptase ditemukan dalm darah penderita leukimia. Enzim ini ditemukan dalm virus onkogenik seperti retrovirus tipe C. enzim tersebut membuat viru yang bersangkutan membentuk bahan genetik kemudian bergabung dengan genom sel yang terinfeksi
(Zubairi Djoerban et. al, Harryanto 1990).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              
e.       Hipoplastik
Setiap keadaan sumsum tulang hipopastik kelihatannya merupakan predisposisi terhadap leukimia. Pasien dengan sindrom mielodiplastik(gangguan sel induk dengan manifestasi adanya blas dan pansitopenia yang ditemukan pada orang dewasa tua) sering berkembang menjadi leukimia nonlimfositik akut.        
(Catherine M. Baldy, 2005).
2.      KLASIFIKASI LEUKIMIA
Klasifikasi leukimia yang paling banyak digunakan adalah FAB(French-American-British). Klasifikasi ini merupakan klasifikasi morfologi yang didasarkan pada diferensiasi dan  maturasi sel leukimia yang dominan dalam sumsum tulang, serta penelitian sitokimia. 

C.    LEUKIMIA AKUT
1.   LEUKIMIA MIELOSITIK AKUT
Leukimia akut yang menyerang rangkaian mieloid disebut Leukimia Nonlimfositik Akut(LNLA) atau Leukimia Mielositik Akut(LMA) atau Leukimia Granulositik Akut. Neoplasma uniklonal dan berasal dari transformasi sel progenitor hematopoietik. Sifat alami neoplastik sel yang sebenarnya telah digambarkan melalui studi molekuler, tetapi defek kritis bersifat intrinsik dan dapat diturunkan melalui progeni sel. Defek kualitatif dan kuantitatif pada semua garis sel mieloid yang berproliferasi pada gaya tak terkontrol dan menggantikan sel normal. Leukimia nonlimfositik akut(LNLA) bertanggung jawab atas 80% leukimia akut pada orang dewasa. Permulaannya mungkin mendadak atau progresif dalam masa 1-3 bulan dengan durasi gejala singkat. Jika tidak diobati, LNLA fatal dalam 3-6 bulan. Leukimia mielositik akut(LMA) ditemukan pada orang dewasa semua umur dan akan meningkat setelah berumur 40 tahun. Umur rata-rata adalah 60 tahun. Diagnosis LMA daapt dibuat berdasarkan gambaran darah tepi, tetapi dibuktikan dengan biopsi danm aspirasi sumsum tulang. Darah tepi dapat menunjukkan mieloblas dalam sirkulasi yang meningkat, normal, atau menurun dan penurunan jumlah granulosit absolut. Jumlah trombosit juga menurun, sering di bawah 50.000. Anemia sednag dapat terjadi. Sumsum tulang umumnya hiperseluler, 30-90% mieloblas mengandung batang Auer. Batang Auer merupakan struktur seperti batang dalam sitoplasma mieloblas dan bersifat diagnostik untuk leukimia mieloid akut. Unsur lain dalam sumsum tulang dapat tertekan. Studi sitogenetik paling sering menunjukkan abnormalitas kromosom. Terdapat perubahan metabolik dengan peningkatan kadar asam urat dan laktat dehidrogenase yang terkait dengan kadar turnover sel darah putih yang tinggi.
Kalsifikasi Leukimia Mielositik Akut
M-0
Berdiferensiasi minimal
M-1
Diferensiasi granulositik tanpa maturasi
M-2
Diferensiasi granulositik dengan maturasi sampai stadium promielositik
M-3
Diferensiasi granulositik dengan promielosit hipergranuler dihubungkan dengan koagulasi intervaskuler diseminata
M-4
Leukimia mielomonosit akut; garis sel monosit dan granulosit
M-5a
Leukimia monosit akut; berdiferensiasi buruk
M-5b
Leukimia monosit akut; berdiferensiasi baik
M-6
Eritroblastosis yang menonjol dengan diseritropoiesis berat
M-7
Leukimia megakariosit
Manifestasi klinis berkaitan dengan berkurangnya sel hematopoietik normal, terutama granulosit dan trombosit. Pasien sering menunjukkan gejala infeksi atau perdarahan atau keduanaya pada waktu diagnosis. Menggigil, demam, takikardi, dan takipnea sering merupakan gejala yang muncul. Infeksi dapat mengenai semua sistem organ. Selulitis, pneumonia, infeksi oral, abses perirektal, dan septikemia merupakan sedikit contoh infeksi yang ditemukan pada populasi ini. Organisme yang paling sering adalah bakteri gram negatif, seperti E. Coli dan pseudomonas, serta infeksi fungus.
Pasien dengan jumlah leukosit meningkat secara nyata dan blas dalam sirkulasi(jumlah lebih dari 200.000/mm3) dapat menunjukkan gejla hiperviskositas. Gejala ini mencakup nyeri kepala, perubahan penglihatan, kebingungan, dan dispnea yang memerlukan leukoforesis segera(pembuangan sel darah putih melalui pemisahan sel) dan kemoterapi yang tepat. Pasien dengan leukimia promielositik yang menampakkan gejla diastesis perdarahan dan leukimia monositik sering menampakkan infiltrasi gusi. Trombositopenia menampakkan perdarahan yang dinyatakan oleh petekie dan ekimosis, epistaksis, hematoma pada membran mukosa, serta perdarahan saluran cerna dan sistem saluran kemih. Tulang mungkin sakit dan lunak yang disebabkan oleh infark tulang atau infiltrat subperiosteal. Anemia bukan merupakan manifestasi awal karena umur eritrosit yang panjang. Jika ditemukan anemia akan ditemukan nyeri kepala, gejala kelelahan, dan dispnea waktu kerja fisik disertai pucat yang nyata.  
Pengobatan pada leukimia mielositik akut dilakukandengan terapi kombinasi yang mencakup antimetabolit Cytosine arabinosid dan antibiotik antrasiklin, seperti daunorubicin hydrocloride, idarubicin, atau mitoxantron. Kombinasi lain mencakup etoposide dan mitoxantrone atau topotecan dan mitoxantrone. Obat antibodi monoklonal, seperti Mylotarg digunakan pada pasien leukimia akut relaps dan menargetkan sel  CD33 positif. Asam transretinoat digunakan sebgai antiakne topikal memungkinkan pematangan sel hematopoietik dengan pencapaian remisi. Pada keadaan relaps, agen oral tersedia dalam uji klinis, yaitu arsenic trioxide(Catherine M. Baldy, 2005).
2.      LEUKIMIA LIMFOSITIK AKUT
Leukimia limfositik akut(LLA) merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak di bawah 15 tahun dengan puncak insiden 3 dan 4 tahun. Keadaan ini juga terdapat pada orang dewasa semua umur dengan peningkatan bertahap pada umur 60 tahun.
Klasifikasi Leukimia Limfositik Akut
L-1
Leukimia limfositik akut anak-anak; populais sel homogen
L-2
Leukimia limfositik akut pada dewasa; populasi sel heterogen
L-3
Leukimia jenis limfoma Burkitt; sel besar, populasi sel homogen
Manifestasi LLA berupa proliferasi limfoblas abnormal dalam sumsum tulang dan tempat-tempat ekstrameduler(di luar sumsum tulang, seperti kelenjar getah bening dan lien). Diagnosis ditegakkan melalui perhitungan sel darah lengkap, diferensiasi, hitung trombosit, neutrofil, dan sel darah merah rendah. Sumsum tulang biasanya hiperseluler disertai adanya infiltrasi limfoblas. Sitogenetik dan immunotyping juga digunakan untuk menguraikan klon maligna. Karena sistem sarf pusat dapat terlibat, perlu dilakukan analisis cairan spinalis. LLA digolongkan berdasarkan kriteria imunologik CD dengan penanda CD5 dan CD7; antigen LLA yang lazim(cLLA); dikenal sebagai CD10, juga mempunyai gambara CD19 dan TdT; sel B membawa CD19, CD20, CD21, dan CD22. sel nul menggambarkan sel B imatur sehingga tidak memiliki penanda CD yang mengidentifikasi. Manifestasi klinis leukimia limfositik menyerupai leukimia granulositik akut dengan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal. Karena itu infeksi, perdarahan, dan anemia merupakan menifestasi utama. Sepertiga pasien tampak denagn infeksi dan perxarahan waktu didiagnosis. Malaise. Demam, letargi, dan kehilangan berat badan, serta kehilangan keringat pada malam hari dapat menjadi gejala yang tampak. Karena menyerang daerah ekstrameduler, pasien mengalami limfadenopati(pembesaran kelenjar getah bening), hepatomegali(pembesaran hepar), dan splenomegali(pembesaran lien). Nyeri tulang dan artralgia lebih sering terdapat pada anak-anak. Tanda dan gejala terkena sistem saraf pusat mencakup nyeri kepala, mutah, kejang, dan gangguan penglihatan(Catherine M. Baldy, 2005).   
Salah satu penatalaksanaan untuk leukimia limfositik akut adalah kemoterapi. Kemoterapi diharapkan memiliki toksisitas selektif artinya menghancurkan sel kanker tanpa merusak sel jaringan normel. Umumnya antineoplastik menekan pertumbuhan atau proliferasi sel dan menimbulkan toksisitas karena menghambat pembelahan sel normal yang proliferasinya cepat, seperti sumsum tulang, epitel germinativum, mukosa saluran cerna, folikel rambut, dan jaringan limfosit. Kemoterapi untuk leukimia limfositik akut memakai obat yang masuk golongan cell cycle specific artinya memerlihatkan toksisitas selektif tehadap fase-fase tertentu dari siklus sel, seperti merkaptopurin, asparaginase, metotreksat, dan vinkristin. Zat CSS efektif terhadap kanker yang berproliferasi tinggi, seperti kanker darah.
Kerja antikanker pada proses dalam sel(semua antikanker bersifat sitotoksik):
a.   Merkaptopurin bekerja sebagai antagonis purin. Merupakan antagonis kompetitif dari enzim yang menggunakan senyawa purin sebagai substrat. Alternatif lain dari mekanisme kerjanya adalah dengan pembentukan 6-Metil merkaptopurin yang menghambat biosintesis purin sehingga sintesis RNA, CoA, ATP, dan DNA dihambat.
b.   Asparaginase: suatu enzim katalisator yang berepran dalam hidrolisis asparagin menjadi asam aspartat dan amonia sehingga sel kanker kehilangan asparagin yang berakibat kematian sel.
Terapi kombinasi bertujuan untuk mendapatkan sinergisme tanpa menambah toksisitas, meningkatkan indeks terapi, dan menunda terjadinya resistensi. Syarat terapi kombiansi: masing-masing obat beda mekanisme kerja, beda efek toksik pada dosis maksimal, diberikan pada masa siklus sel pada saat obat paling efektif, dosis oleh penelitian dan pengalaman.Contoh terapi kombinasi:
a.       metotreksat dan asparagin(setelah 24 jam): efek antikanker yang sinergistik terhadap LLA.
b.      Prednison dosis tinggi dipakai dengan satu atau lebih obat(vinkristin, metotreksat, dan 6-merkaptopurin): jumlah pasien yang mengalami remisi dengan terapi kombinasi lebih besar daripada dengan dosis tunggal.
c.       Metotreksat tunggal remisi 20% kombinasi dengan prednison remisi 80%: pemberian metotreksat intratekal ditambah radiasi kepala rutin dilakukan pada LLA untuk mencegah leukimia meningial.
d.      Vinkristin tunggal remisi 50-60% kasus, vinkristin dan prednison remisi 90%.
Terapi penunjang: vinkristin dan metotreksat atau merkaptopurin dan prednison atau metotreksat dan merkaptopurin. Efek nonterapi: sel stem imun yang juga rusak akibat kemoterapi menyebabkan lebih mudah terkena infeksi sehingga mengakibatkan terjadinya sepsis. Prinsip pengobatan: perpanjangan hidup = jumlah sel kanker yang dibasmi = dosis = efek nonterapi. Dosis: asparaginase: Intra Vena, 50-200/kg berat badan/hari dan prednison: oral, 20-100 mg/1-2 hari (Nafrialdi et. al, 2007).

D.    LEUKIMIA KRONIK
1.      LEUKIMIA GRANULOSITIK KRONIK
Leukimia granulositik kronik(LGK) atau Leukimia mielositik kronik(LMK)
 paling sering terlihat pada orang dewasa usia pertengahan, tetapi dapat juga timbul pada setiap kelompok umur. LGK memiliki awitan yang lambat, sering ditemukan waktu pemeriksaan darah rutin atau skrining darah. LGK dianggap sebagai suatu gangguan mieloproliperatif karena sumsum tulang hiperseluler dengan proliferasi pada semua garis diferensiasi sel. Jumlah granulosit umumnya lebih dari 30.000/mm3. Walaupun pematangannya terganggu, sebagian besar tetap menjadi matang dan berfungsi. Basofil dan eosinofil sering ditemukan. Paad 85% kasus terdapat kelainan kromosom disebut kromosom Philadelphia. Kromosom Philadephia merupakan suatu translokasi dari lengan panjang kromosom 22 ke kromosom 9. kelainan kromosom ini memengaruhi sel induk hematopoietik dan karenanya terdapat pada garis sel mieloid, serta beberapa garis limfoid.
Tanda dan gejala  berkaitan dengan keadaan hipermetabolik: kelelahan, penurunan berat badan, diaforesis meningkat, dan tidak tahan panas. Lien membesar pada 90% kasus yang mengakibatkan perasaan penuh pada abdomen dan mudah merasa kenyang. Apabila terdapat anemia, pasien akan mengalami takikardi, pucat, dan nafas pendek. Memar dapat terjadi akibat fungsi trombosit abnormal. Tujuan pengobatan adalh mengurangi kromosom Philadelphia dan BCR-ABL onkogenik yang terbentuk akibat translokasi kromosom 9 ke 22. gen  ini dianggap mencetuskan pertumbuhan sel leukiemik yang tidak terkontrol.
Pengoabatan saat ini dengan kemoterapi intermitten menggunakan hidroksiurea dan alfa-interferon. Uji klinis menggunakan homoherringtonin, suatu alkaloid tanaman dan sitosin arabinosid, suatu antimetabolit terbukti efektif pada 65% oasien. Sebagian besar pengobatan mengakibatkan supresi hematopoiesis dan pengurangan ukuran lien. Interferon mengurangi jumlah sel positif kromosom Philadelphia. Obat oral baru STI 571, inhibitor tirosin kinase telah diuji klinis dengan pasien pada fase agresif penyakitnya. Dengan menghambat tirosin kinase, STI 571 menghambat proliferasi gen BCR/ABL(Catherine M. Baldy, 2005).
2.      LEUKIMIA LIMFOSITIK KRONIK
Leukimia limfositik kronik(LLK) merupakan suatu gangguan limfoproliperatif yang ditemukan pada orang tua( umur median 60 tahun) dengan perbandingan laki-laki:perempuan = 2:1. LLK dimanifestasikan oleh proliferasi dan akumulasi 30% limfosit matang abnormal kecil dalam sumsum tulang, darah perifer, dan tempat-tempat ekstramedular dengan kadar yang mencapai 100.000+/mmatau lebih. Pada lebih dari 90% kasus, limfosit abnormal adalah limfosit B dengan penanda CD19, CD20, CD23, dan CD5. karena limfosit B berperan dalam sintesis imunoglobulin, pasien dengan LLK mengalami insufisiensi sintesis imunoglobulin dan penekanan respon antibodi. Studi sitogenetik menunjukkan lebih dari 80% pasien mengalami berbagai perubahan sitogenetik yang mungkin menunjukkan prognosis buruk. Awitannya tersembunyi dan berbahaya serta sering ditemukan pada pemeriksaan darah rutin yang ememrlihatkan peningkatan jumlah limfosit absolut atau karena limfadenopati dan splenomegali yang tidak sakit. Waktu penyakitnya berkembang, hati juga membesar. Pasien yang hanya menderita limfositosis dan limfadenopati dapat beratahan 10 tahun atau lebih. Sekitar 10% pasien mengalami transformais agresif serupa sindrom Richter(limfoma agresif).
Tanda dan gejala serupa dengan LGK menggambarkan keadaan hipermetabolik. Pembesaran organ secara masif menyebabkan tekanan mekanik pada lambung sehingga menimbulkan gejala cepat kenyang, rasa tidak enak pada abdomen, dan buang air besar tidak teratur. Karena sintesis imunoglobulin tidak cukup dan respon antibodi yang tertekan, perjalanannya dipersulit dengan episode rekuren infeksi, yang terutama melibatkan paru dan kulit. Pneumonia sering terjadi, terutama Pneumocytis carinii dan pneumonia pneumokokal. Infeksi kulit virus, seperti herpes zoster sering terjadi.
Pengobatan diindikasikan bila pasien mengalami pansitopenia yang meningkat dengan infeksi, peningkatan lifadenopati dan organomegali, anemia dan trombositopenia akibat penggantian sumsum tulang, serta perubahan kualitas hidup pasien. Pengobatan ditujukan pada pengurangan masa limfositik sehingga membalikkan pansitopenia dan menghilangkan rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh pembesaran organ. Agen pengalkil, seperti klorambusil, dan siklofosfamid aktif pada pengobatan LLK. Fludarabin, antimetabolit purin diberikan 3-5 hari sebagai agen tunggal juga efektif digabung dengan agen lain, seperti siklofosfamid jika psien menjadi refrakter(Catherine M. Baldy, 2005).

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Terima kasih informasinya mas,sangat bermanfaat dan membantu sekali..
untuk referensi mungkin bisa coba buka situs ini http://www.tanyadok.com/artikel-konsultasi/eosinofil-tinggi-alergikah

Rochima Ridha mengatakan...

You're welcome,, thankyou for visited my blog,, :) I'll make some new notes next time.. As soon as possible, :)

Posting Komentar