Sabtu, 14 Juli 2012

Eritrosit / Sel Darah Merah


A.    SEL DARAH MERAH
Sel darah merah atau eritrosit normal berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter kira-kira 7,8 μm dan ketebalan pada bagian yang paling tebal 2,5 μm serta pada bagian tengah 1 μm atau kurang. Volume rata-rat sel darah merah adalah 90-95 μm3. Bentuk sel darah merah dapat berubah-ubah ketika melewati kapiler. Sesungguhnya, sel darah merah merupakan suatu kantong yang dapat diubah menjadi berbagai bentuk. Karena sel norma mempunyai membaran yang sangat kuat untuk menampung bahan material di dalamnya, perubahan bentuk tadi tidak akan meregangkan membran secara hebat dan tidak akan memecahkan sel.
Pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah merah daalah 5.200.000 ± 300.000/mm3 dan pada wanita normal 4.700.000 ± 300.000/mm3. Ketinggian suatu tempat dapat memengaruhi jumlah sel darah merah. Sel darah merah mampu mengonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai 34 gm/d. Bila hematokrit(persentase sel dalam darah) dan jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel normal, seluruh darah pria dewasa mengandung hemoglobin 16 g/dl dan pada wanita 14 g/dl.
Fungsi utama dari sel darah merah adalah mengangkut hemoglobin yang selanjutnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain mengangku hemoglobin, sel adarah merah mengandung banayak karbonik anhidrase yang mengatalisis reaksi antara karbondioksida dan air sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolak-balik ini. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam darah dapat bereaksi dengan banyak sekali karbon dioksida. Dengan demikian, mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonat. Hemoglobin dalam sel juga merupakan dapar asam basa sehingga sel darah merah bertanggung jawab untuk sebagian besar daya pendaparan seluruh darah.
(Arthur C. Guyton et.al., 1997).

B.     PRODUKSI SEL DARAH MERAH
 Dalam minggu-minggu pertama kehidupan embrio, sel darah merah primitif banyak diproduksi di yolk sac. Selama pertengahan trimester masa gestasi, hati adalah organ utama yang memroduksi sel darah merah meskipun banyak sel darah merah ditemukan dalam limpa dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kelahiran dan sesudah lahir sel darah merah hanya diproduksi di sumsum tulang. Pada dasarnya sumsum tulang dari semua tulang memroduksi sel darah merah sampai usia 5 tahun, tapi sumsum dari tulang panjang kecuali bagian proksimal humerus dan tibia menjadi sangat berlemak dan tidak memroduksi sel darah merah setelah kurang lebih berusia 20 tahun. Setelah usia ini kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, iga, dan ilium. Bahkan dalam tulang-tulang ini sumsum menjadi kurang produktif seiring bertambahnya usia.
Dalam sumsum tulang terdapat sel stem hematopoietik pluripoten, yang merupakan asal sel dalam darah sirkulasi. Karena sel darah ini diproduksi terus-menerus sepanjang hidup, ada bagian dari sel-sel ini masih tepat seperti sel-sel pluripoten asalnya dan disimpan dalam sumsum tulang guna memertahankan suplainya. Namun, sebagian sel stem yang direproduksi akan berdeferensiasi membentuk sel lain. Asal sel yang paling mula masih tidak dapat dikenali sebagai suatu sel yang berbeda dari dari stem sel pluripoten, walaupun sel ini membentuk suatu jalur sel khusus disebul stem sel commited. Berbagai sel stem commited bila ditumbuhkan dalam biakan akan menghasilkan koloni tipe sel darah yang spesifik. Sel stem comitted yang menghasilkan eritrosit disebut unit pembentuk koloni eritrosit dan singkatan CFU-E menandai jenis sel stem ini. Unit pembentuk koloni garanulosit dan monosit disingkat CFU-GM.
Sel pertama yang dikenali sebagai bagian dari rangkaian eritrosit adalah proeritroblas. Dengan rangsangan yang sesuai maka dari sel stem CFU-E dapat dibentuk banyak sekali sel ini. Sekali proeritroblas terbentuk, ia akan membelah beberapa kali sampai akhirnya terbentuk eritrosit matur. Sel generasi pertama disebut basofil eritroblas karena dapat dipulas dengan zat warna basa. Pada saat ini, sel mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Generasi berikutnya, sel sudah dipenuhi hemoglobin dengan konsentrasi 34% sehingga nukleus memadat menjadi kecil dan sisanya terdorong keluar sel. Pada saat yang sama, retikulum endoplasma direabsorbsi. Pada saat ini sel disebut retikulosit karena masih mengandung sedikit bahan basofilik, yaitu terdiri dari sia-sisa aparatus Golgi, mitokondria, dan sedikit organel sitoplasmik lainnya. Selama tahap retikulosit sel berjalan dari sumsum tulang masuk ke dalam kapiler darah dengan cara diapedesis(terperas melalui pori-pori membran kapiler). Bahan basofilik yang tersisa dalam retikulosit normalnya akan menghilang dalam waktu 1-2 hari dan sel menjadi eritrosit matur(Arthur C. Guyton et.al., 1997).
C.    METABOLISME BESI
      Jumlah rata-rata besi dalam tubuh 4-5 gram, 65% dijumpai dalam bentuk hemoglobin, 4 % dalam bentuk mioglobin, 1 % dalam bentuk macam-macam senyawa heme yang meningkatkan oksidasi intraseluler, 0,1 % bergabung dengan protein transferin dalam plasma darah, 15-30 % disimpan dalam sistem retikuloendotelial dalam sel parenkim hati, khususnya dalam bentuk feritin. 
Besi diabsorbsi dari semua bagian usus halus. Hati menyekresi apotransferin dalam jumlah sedang ke dalam empedu yang mengalir melalui duktus empedu ke dalam duodenum. Daalm usus halus, apotransferin berikatan dengan besi bebas dan dengan beberapa senyawa besi, seperti hemoglobin dan mioglobin, membentuk transferin. Transferin tertarik dan berikatan dengan reseptor membran sel epitel usus. Molekul transferi diabsorbsi ke dalam sel epitel dengan cara pinositosis dan dilepaskan dalam sisi darah dari sel lain dalam bentuk transferi plasma. Kecepatan absorbsi besi sangat lambat dengan kecepatan maksimum hanya beberapa mg/hari. Molekul transferi berikatan secara kuat dengan reseptor pada membran sel eritroblas dalam sumsum tulang. Selanjutnya, transferin bersama besi yang terikat masuk kedalama eritriblas dengan cara endositosis. Di sisni, transferin mengirimkan besi secara langsung ke mitokondria, tempat heme disintesis(Arthur C. Guyton et.al., 1997).
D.    SINTESIS HEMOGLOBIN
      Sintesis hemoglobin dimulai dari proeritroblas kemudian dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit karena ketika retikulosit meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit tetap membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya. Pertama, suksisnil ko-A yang dibentuk dalam siklus Krebs berikatan dengan glisin untuk membentuk molekul pirol. Empat pirol bergabung untuk membentuk protoporfirin IX yang kemudian bergabung dengan besi untuk membentuk molekul heme. Akhirnya setiap molekul heme bergabung dengan rantai polipeptida panjang yang disebut dengan globin membentuk suatu subunit hemoglobin yang disebut rantai hemoglobin. Tiap atom besi dalam setiap molekul hemoglobin dalam berikatan dengan 1 molekul oksigen(Arthur C. Guyton et.al., 1997).

0 komentar:

Posting Komentar