Jumat, 13 Juli 2012

Karsinoma Servik



Merupakan pertumbuhan baru sel-sel epitel yang ganas pada leher rahim yang cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis. Insidensi neoplasia intraepitel serviks (CIN) memuncak pada usia sekitar 30 tahun, sedangkan untuk karsinoma invasif adalah sekitar 45 tahun. Lesi prakanker memerlukan waktu bertahun-tahun, mungkin berpuluh tahun, untuk berkembang menjadi karsinoma yang nyata. Faktor risiko karsinoma serviks antara lain: usia dini saat mulai berhubungan kelamin, memiliki banyak pasangan seksual, pasangan laki-laki memiliki riwayat banyak memiliki pasangan, multipara, kondisi sosioekonomi rendah, infeksi persisten oleh virus papiloma manusia ”risiko tinggi”, dan keadaan lingkungan sekitar (kebiasaan merokok, nutrisi) (Robin & Kumar, 2007).
Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut:
1.  Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan hubungan seksual dan setelah menopause.
2.      Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak).
3.   Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.
Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:
1.      Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan.
2.      Nyeri panggul, punggung atau tungkai.
3.      Dari vagina keluar air kemih atau tinja.
4.      Patah tulang (fraktur).
( Abidin, 2007).
Penatalaksanaan Kanker Serviks
Pemilihan metode terapi berdasarkan pembagian stadium klinis, derajat diferensiasi patologis, ukuran tumor.
1. Terapi Operasi → tindakan kuratif pada kanker serviks stadium awal
Ia1: dengan histerektomi (pengangkatan uterus) total, bila perlu konservasi fungsi reproduksi, dapat dengan konisasi (pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut (konus), dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut)
Ia2: dengan histerektomi radikal modifikasi ditambah pembersihan kelenjar limfe kavum pelvis bilateral
Ib1 – IIa: dengan histerektomi radikal modifikasi atau histerektomi radikal ditambah pemberishan kelenjar limfe kavum pelvis bilateral; pasien usia muda dapat mempertahankan ovary.

2. Radioterapi
a. Radioterapi radikal
Sesuai untuk karsinoma serviks uteri stadium IIb – IV. Tujuannya adalah agar lesi primer serviks uteri dan lesi sekunder yang mungkin timbul semuanya mendapat dosis radiasi maksimal, tapi tidak melebihi dosis toleransi radiasi organ dalam abdomen dan pelvis
b. Radioterapi praoperasi
Digunakan untuk stadium Ib2/IIa atau tumor serviks tipe tumbuh ke dalam, kanalis servikalis sangat jelas membesar. Radioterapi membuat lesi mengecil, meningkatkan keberhasilan operasi, menurunkan vitalitas sel kanker dan penyebaran intraoperatif, sehingga mengurangi risiko timbulnya rekurensi sentral.
c. Radioterapi pascaoperasi
Untuk pasien yang secara patologik terbukti terdapat metastasis di kelenjar limfe kavum pelvis, kelenjar limfe para-aorta abdominal, jaringan parametrium, tumor menginvasi lapisan otot dalam serviks uteri, tampak tumor residif di vagina residual.

3. Kemoterapi
Terutama digunakan untuk terapi kasus stadium sedang dan lanjut pra-operasi atau kasus rekuren, metastasis. Untuk tumor ukuran besar, relative sulit diangkat secara operasi, kemoterapi dapat mengecilkan tumor, meningkatkan keberhasilan operasi. Terhadap pasien radioterapi, tambahan kemoterapi yang sesuai dapat meningkatkan sensitivitas terhadap radiasi; sedangkan bagi pasien stadium lanjut yang tidak sesuai untuk operasi atau radioterapi, kemoterapi dapat membawa efek paliatif.
Pada tingkat klinik IVa dan IVb penyinaran hanya bersifat paliatif. Pemberian kemoterapi dapat dipertimbangkan. Pada penyakit yang kambuh satu tahun sesudah penanganan lengkap, dapat dilakukan operasi jika terapi terdahulu adalah radiasi dan prosesnya masih terbatas pada panggul. Jika operasi tak mungkin dilakukan, harus dipilih kemoterapi bila syarat2nya terpenuhi. Menggunakan bentuk regimen yang terdiri dari kombinasi beberapa sitostatika (polikemoterapi). Jika terapi terdahulu adalah operasi, sebaiknya dilakukan penyinaran jika prosesnya masih terbatas dalam panggul (lokoregional). Bila penyebaran sudah lanjut, pilih kemoterapi (Wiknjosastro, dkk, 1997).

0 komentar:

Posting Komentar