Sabtu, 14 Juli 2012

Anemia Defisiensi Besi


            Anemia merupakan penurunan konsentrasi eritrosit atau hemoglobin dalam darah dibawah normal, diukur per mm kubik atau melalui volume sel darah merah (packed red cells) dalam 100 ml darah; terjadi ketika keseimbangan antara kehilangan darah (melalui perdarahan atau perusakan) dan produksi darah terganggu (Dorland, 2006).


            KLASIFIKASI ANEMIA
      Anemia dapat diklasifikasikan menurut: faktor morfologik sel darah merah dan indeksnya atau etiologi. Pada klasifikasi morfologik anemia mikro-atau makro- menunjukkan ukuran sel darah merah dan kromik menunjukkan warna.
a.    Anemia normokromik normositik: sel darah merah memiliki ukuran dan bentuk normal serta mengandung jumlah hemoglobin normal)MCV dan MCHC normal atau normal rendah. Penyebabnya adalah kehilangan darah akut, hemolisis, penyakit kronis yang meliputi infeksi, gangguan endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sumsum tulang, dan penyakit infiltratif metastatik pada sumsum tulang.
b.  Anemia normokromik makrositik: sel darah merah lebih besar dari normal, tetapi normokromik karena konsentrasi hemoglobin normal(MCV meningkat, MCHC normal). Keadaan ini disebabkan oleg terganggunya atau terhentinya sintesis DNA, seperti pada defisiensi vitamin B12 atau asam folat atau keduanya.
c.   Anemia hipokromik mikrositik: sel darah merah berukuran lebih kecil dari normal dan pewarnaannya berkurang. Sel mengandung hemoglobin dengan jumlah yang kurang dari normal. Keadaan ini mencerminkan insufisiensi sintesis heme atau kekurangan zat besi, seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik, dan kehilangan darah kronis, atau gangguan sintesi globin.
            Anemia dapat juga diklasifikasikan menurut etiologi:
a.     Peningkatan hilangnya sel darah merah: disebabkan oleh perdarahan atau penghancuran sel. Perdarahan dapat diakibatkan oleh trauma, ulkus, perdarahan karena polip di kolon, keganasan, hemoroid, dan menstruasi.
b.  Berkurangnya atau terganggunya produksi sel darah merah(diseritropoiesis): beberapa keadaan dapat memengaruhi fungsi sumsum tulang, seperti keganasan jaringan padat metastatik, leukimia, limfoma, mieloma multipel, pejanan terhadap obat-obat dan zat kimia toksik, radiasi, penyakit kronis yang mengenai ginjal dan hati, serta infeksi dan defisiensi endokrin. Kekurangan vitamin penting, seperti B12, asam folat, vitamin C, dan zat besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif.
(Arthur C. Guyton et.al., 1997). 


ANEMIA DEFISIENSI BESI
Sedangkan anemia dibagi lagi menjadi berbagai macam, salah satunya yaitu anemia defisiensi, yang merupakan anemia yang disebabkan oleh sangat sedikitnya suatu zat spesifik yang diperlukan untuk sintesis hemoglobin normal dan maturasi eritrositik, yang timbul karena beberapa sebab, seperti malabsorpsi atau asupan diet yang buruk (Dorland, 2006). Anemia defisiensi ini ada tiga macam, yaitu defisiensi asam folat, defisisensi besi, dan defisiensi asam askorbat (vitamin C). Dalam kasus ini, anemia defisiensi yang akan dibahas adalah anemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi besi ini sendiri merupakan anemia mikrositik hipokrom yang ditandai dengan kadar serum besi yang rendah, peningkatan kapasitas pengikatan besi serum, penurunan feritin serum, dan penurunan penyimpanan besi di dalam sumsum (Stedman, 2005). Sedangkan untuk patogenesis dari anemia defisiensi besi ini sendiri dibagi ke dalam tiga tingkat, yaitu :
a.       Tingkat I
"Iron depletion" yang ditandai dengan berkurangnya atau tidak adanya cadangan besi, sehingga feritin plasma akan menurun dan absorbsi zat besi akan meningkat. Pada orang dewasa keadaan ini mudah dibedakan dengan keadaan normal, tetapi pada anak yang sedang tumbuh agak sulit ditentukan, karena pada anak-anak yang sedang tumbuh dalam keadaan normalpun bisa didapati kadar hemosiderin dalam sumsum tulang yang sangat rendah.
b.      Tingkat II
Bilamana keseimbangan zat besi yang negatip menjadi lebih progresif, maka terjadilah keadaan yang dinamakan "Iron deficiency erythropoesis" dengan tanda-tanda penurunan cadangan zat besi (depot iron) dalam tubuh, penurunan kadar besi dal m serum, dan penurunan kadar jenuh transferin sampai kurang dari 16 %, tapi belum ada tanda-tanda anemia yang jelas.
c.       Tingkat III
Dinamakan " Iron deficiency anemia " Pada tingkat ini keseimbangan zat besi yang negatif ditandai dengan adanya anemia yang nyata, disertai dengan kelainan-kelainan seperti pada tingkat II(Muhammad Riswan, 2003).
Gejala anemia defisiensi besi dapat digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu :
a.       Gejala umum anemia
Gejala ini dijumpai apabila kadar hemoglobin turun di bawah 7-8 g/dl. Berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Dan pada pemeriksaan fisik, dijumpai pasien yang pucat, terutama pada konyungtiva dan jaringan di bawah kuku.
b.      Gejala khas defisiensi besi
    • Koilonychia; kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung, sehingga mirip sendok.
    • Atrofi papil lidah; permukaan lidah mejadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.
    • Stomatitis angularis (cheilosis); adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
    • Disfagia; nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.
    • Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloridia.
    • Pica; keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim, seperti : tanah liat, es, lem, dan lain-lain.
c.       Gejala penyakit dasar
Gejala yang merupakan gejala-gejala dari penyebab anemia itu sendiri. Misalnya pada anemia karena perdarahan kronik akibat kanker kolon, dijumpai gangguan kebiasaan buang air besar atau gejala lain tergantung dari lokasi kanker tersebut (Sudoyo, Aru W. et al., 2006).
Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang teliti disertai pemeriksaan laboratorium yang tepat. Diperlukan tiga tahapan dalam mendiagnosis anemia defisiensi besi, yaitu : menentukan adanya anemia dengan mengukur kadar hemoglobin atau hematokrit sebagai tahap pertama; memastikan adanya defisiensi besi sebagai tahap kedua; dan sebagai tahap ketiga, adalah menentukan penyebab dari defisiensi besi yang terjadi. Pemeriksaan laboratorium pada kasus anemia defisiensi besi yang dapat dijumpai adalah : pemeriksaan kadar hemoglobin dan indeks eritrosit, pemeriksaan apusan darah tepi, besi serum dan TIBC (Total Iron Binding Capacity), feritin serum, protoporfirin, kadar reseptor transferin dalam serum, sumsum tulang, studi ferokinetik, dan pemeriksaan lain (pemeriksaan feses, endoskopi, dan lain-lain). Pada pemeriksaan apusan darah tepi, terlihat anemia hipokromik, mikrositer, anisositosis, dan poikilositosis; pada kondisi hipokromia dan mikrositosis ekstrim, ditemukan sel cincin dan sel pensil; sedangkan untuk leukosit dan trombosit pada umumnya normal. Tetapi granulositopenia ringan dapat dijumpai pada anemia defisiensi besi yang berlangsung lama, eosinofilia dijumpai pada anemia defisiensi besi karena cacing tambang, dan trombositosis ditemui pada anemia defisiensi besi denga episode perdarahan akut. Selain itu, anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia hipokromik lainnya(Sudoyo, Aru W. et al., 2006).
Untuk mengobati defisiensi besi, penyebab mendasar anemia harus diidentifikasi dan dihilangkan. Intervensi pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif akibat polip, ulkus, keganasan, dan hemoroid,. Perubahan diet diperlukan untuk bayi-bayi yang hanya diberi susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar. Walaupun modifikasi diet dapat meningkatkan besi yang tersedia, suplementasi besi diperlukan untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan cadangan besi. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. Sebagian besar orang berespon baik terhadap senyawa oral, sperti ferosulfat 325 mg 3 kali sehari selama paling sedikit enam bulan untuk menggantikan cadangan besi. Sediaan besi parenteral digunakan pada pasien yang tidak dapat menoleransi sediaan oral atau yang tidak patuh. Besi parenteral memiliki insiden terjadinya reaksi yang merugikan relatif tinggi. Pasien diberikan dosis uji dan dipantau selama satu jam. Jika pasien tidak mengalami efek samping, dosisnya diberikan 2 jam kemudian(Baldy, Catherine M., 2005).
3.   PERBEDAAN ANTARA ANEMIA DEFISIENSI BESI DENGAN ANEMIA AKIBAT PENYAKIT KRONIK

Anemia Defisiensi Besi
Anemia Akibat Penyakit Kronik
Trait Thalassemia
Anemia Sideroblastik
Derajat anemia
Ringan sampai berat
Ringan
Ringan
Ringan sampai berat
MCV
Menurun
Menurun/
Normal
Menurun
Menurun/
Normal
MCH
Menurun
Menurun/
Normal
Menurun
Menurun/
Normal
Besi serum
Menurun<30
Menurun<50
Normal/Naik
Normal/Naik
TIBC
Meningkat>360
Menurun<300
Normal/Turun
Normal/Turun
Saturasi Transferin
Menurun<15%
Menurun/N 10-20%
Meningkat>20%
Meningkat>20%
Besi sumsum tulang
Negatif
Positif
Positif kuat
Positif dengan ring sideroblast
Protoporfirin eritrosit
Meningkat
Meningkat
Normal
Normal
Feritin serum
Menurun<20 μg/l
Normal 20-200 μg/l
Meningkat>50 μg/l
Meningkat>50 μg/l
Elektroforesis Hb
Normal
Normal
Hb.A2 meningkat
Normal
                                                                                    (I Made Bakta, 2006)


0 komentar:

Posting Komentar