Sabtu, 14 Juli 2012

Anemia Defisiensi Besi


            Anemia merupakan penurunan konsentrasi eritrosit atau hemoglobin dalam darah dibawah normal, diukur per mm kubik atau melalui volume sel darah merah (packed red cells) dalam 100 ml darah; terjadi ketika keseimbangan antara kehilangan darah (melalui perdarahan atau perusakan) dan produksi darah terganggu (Dorland, 2006).


            KLASIFIKASI ANEMIA
      Anemia dapat diklasifikasikan menurut: faktor morfologik sel darah merah dan indeksnya atau etiologi. Pada klasifikasi morfologik anemia mikro-atau makro- menunjukkan ukuran sel darah merah dan kromik menunjukkan warna.
a.    Anemia normokromik normositik: sel darah merah memiliki ukuran dan bentuk normal serta mengandung jumlah hemoglobin normal)MCV dan MCHC normal atau normal rendah. Penyebabnya adalah kehilangan darah akut, hemolisis, penyakit kronis yang meliputi infeksi, gangguan endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sumsum tulang, dan penyakit infiltratif metastatik pada sumsum tulang.
b.  Anemia normokromik makrositik: sel darah merah lebih besar dari normal, tetapi normokromik karena konsentrasi hemoglobin normal(MCV meningkat, MCHC normal). Keadaan ini disebabkan oleg terganggunya atau terhentinya sintesis DNA, seperti pada defisiensi vitamin B12 atau asam folat atau keduanya.
c.   Anemia hipokromik mikrositik: sel darah merah berukuran lebih kecil dari normal dan pewarnaannya berkurang. Sel mengandung hemoglobin dengan jumlah yang kurang dari normal. Keadaan ini mencerminkan insufisiensi sintesis heme atau kekurangan zat besi, seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik, dan kehilangan darah kronis, atau gangguan sintesi globin.
            Anemia dapat juga diklasifikasikan menurut etiologi:
a.     Peningkatan hilangnya sel darah merah: disebabkan oleh perdarahan atau penghancuran sel. Perdarahan dapat diakibatkan oleh trauma, ulkus, perdarahan karena polip di kolon, keganasan, hemoroid, dan menstruasi.
b.  Berkurangnya atau terganggunya produksi sel darah merah(diseritropoiesis): beberapa keadaan dapat memengaruhi fungsi sumsum tulang, seperti keganasan jaringan padat metastatik, leukimia, limfoma, mieloma multipel, pejanan terhadap obat-obat dan zat kimia toksik, radiasi, penyakit kronis yang mengenai ginjal dan hati, serta infeksi dan defisiensi endokrin. Kekurangan vitamin penting, seperti B12, asam folat, vitamin C, dan zat besi dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif.
(Arthur C. Guyton et.al., 1997). 


ANEMIA DEFISIENSI BESI
Sedangkan anemia dibagi lagi menjadi berbagai macam, salah satunya yaitu anemia defisiensi, yang merupakan anemia yang disebabkan oleh sangat sedikitnya suatu zat spesifik yang diperlukan untuk sintesis hemoglobin normal dan maturasi eritrositik, yang timbul karena beberapa sebab, seperti malabsorpsi atau asupan diet yang buruk (Dorland, 2006). Anemia defisiensi ini ada tiga macam, yaitu defisiensi asam folat, defisisensi besi, dan defisiensi asam askorbat (vitamin C). Dalam kasus ini, anemia defisiensi yang akan dibahas adalah anemia defisiensi besi.
Anemia defisiensi besi ini sendiri merupakan anemia mikrositik hipokrom yang ditandai dengan kadar serum besi yang rendah, peningkatan kapasitas pengikatan besi serum, penurunan feritin serum, dan penurunan penyimpanan besi di dalam sumsum (Stedman, 2005). Sedangkan untuk patogenesis dari anemia defisiensi besi ini sendiri dibagi ke dalam tiga tingkat, yaitu :
a.       Tingkat I
"Iron depletion" yang ditandai dengan berkurangnya atau tidak adanya cadangan besi, sehingga feritin plasma akan menurun dan absorbsi zat besi akan meningkat. Pada orang dewasa keadaan ini mudah dibedakan dengan keadaan normal, tetapi pada anak yang sedang tumbuh agak sulit ditentukan, karena pada anak-anak yang sedang tumbuh dalam keadaan normalpun bisa didapati kadar hemosiderin dalam sumsum tulang yang sangat rendah.
b.      Tingkat II
Bilamana keseimbangan zat besi yang negatip menjadi lebih progresif, maka terjadilah keadaan yang dinamakan "Iron deficiency erythropoesis" dengan tanda-tanda penurunan cadangan zat besi (depot iron) dalam tubuh, penurunan kadar besi dal m serum, dan penurunan kadar jenuh transferin sampai kurang dari 16 %, tapi belum ada tanda-tanda anemia yang jelas.
c.       Tingkat III
Dinamakan " Iron deficiency anemia " Pada tingkat ini keseimbangan zat besi yang negatif ditandai dengan adanya anemia yang nyata, disertai dengan kelainan-kelainan seperti pada tingkat II(Muhammad Riswan, 2003).
Gejala anemia defisiensi besi dapat digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu :
a.       Gejala umum anemia
Gejala ini dijumpai apabila kadar hemoglobin turun di bawah 7-8 g/dl. Berupa badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging. Dan pada pemeriksaan fisik, dijumpai pasien yang pucat, terutama pada konyungtiva dan jaringan di bawah kuku.
b.      Gejala khas defisiensi besi
    • Koilonychia; kuku sendok (spoon nail), kuku menjadi rapuh, bergaris-garis vertikal dan menjadi cekung, sehingga mirip sendok.
    • Atrofi papil lidah; permukaan lidah mejadi licin dan mengkilap karena papil lidah menghilang.
    • Stomatitis angularis (cheilosis); adanya keradangan pada sudut mulut sehingga tampak sebagai bercak berwarna pucat keputihan.
    • Disfagia; nyeri menelan karena kerusakan epitel hipofaring.
    • Atrofi mukosa gaster sehingga menimbulkan akhloridia.
    • Pica; keinginan untuk memakan bahan yang tidak lazim, seperti : tanah liat, es, lem, dan lain-lain.
c.       Gejala penyakit dasar
Gejala yang merupakan gejala-gejala dari penyebab anemia itu sendiri. Misalnya pada anemia karena perdarahan kronik akibat kanker kolon, dijumpai gangguan kebiasaan buang air besar atau gejala lain tergantung dari lokasi kanker tersebut (Sudoyo, Aru W. et al., 2006).
Untuk menegakkan diagnosis anemia defisiensi besi harus dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang teliti disertai pemeriksaan laboratorium yang tepat. Diperlukan tiga tahapan dalam mendiagnosis anemia defisiensi besi, yaitu : menentukan adanya anemia dengan mengukur kadar hemoglobin atau hematokrit sebagai tahap pertama; memastikan adanya defisiensi besi sebagai tahap kedua; dan sebagai tahap ketiga, adalah menentukan penyebab dari defisiensi besi yang terjadi. Pemeriksaan laboratorium pada kasus anemia defisiensi besi yang dapat dijumpai adalah : pemeriksaan kadar hemoglobin dan indeks eritrosit, pemeriksaan apusan darah tepi, besi serum dan TIBC (Total Iron Binding Capacity), feritin serum, protoporfirin, kadar reseptor transferin dalam serum, sumsum tulang, studi ferokinetik, dan pemeriksaan lain (pemeriksaan feses, endoskopi, dan lain-lain). Pada pemeriksaan apusan darah tepi, terlihat anemia hipokromik, mikrositer, anisositosis, dan poikilositosis; pada kondisi hipokromia dan mikrositosis ekstrim, ditemukan sel cincin dan sel pensil; sedangkan untuk leukosit dan trombosit pada umumnya normal. Tetapi granulositopenia ringan dapat dijumpai pada anemia defisiensi besi yang berlangsung lama, eosinofilia dijumpai pada anemia defisiensi besi karena cacing tambang, dan trombositosis ditemui pada anemia defisiensi besi denga episode perdarahan akut. Selain itu, anemia defisiensi besi perlu dibedakan dengan anemia hipokromik lainnya(Sudoyo, Aru W. et al., 2006).
Untuk mengobati defisiensi besi, penyebab mendasar anemia harus diidentifikasi dan dihilangkan. Intervensi pembedahan mungkin diperlukan untuk menghambat perdarahan aktif akibat polip, ulkus, keganasan, dan hemoroid,. Perubahan diet diperlukan untuk bayi-bayi yang hanya diberi susu atau individu dengan idiosinkrasi makanan atau yang menggunakan aspirin dalam dosis besar. Walaupun modifikasi diet dapat meningkatkan besi yang tersedia, suplementasi besi diperlukan untuk meningkatkan hemoglobin dan mengembalikan cadangan besi. Besi tersedia dalam bentuk parenteral dan oral. Sebagian besar orang berespon baik terhadap senyawa oral, sperti ferosulfat 325 mg 3 kali sehari selama paling sedikit enam bulan untuk menggantikan cadangan besi. Sediaan besi parenteral digunakan pada pasien yang tidak dapat menoleransi sediaan oral atau yang tidak patuh. Besi parenteral memiliki insiden terjadinya reaksi yang merugikan relatif tinggi. Pasien diberikan dosis uji dan dipantau selama satu jam. Jika pasien tidak mengalami efek samping, dosisnya diberikan 2 jam kemudian(Baldy, Catherine M., 2005).
3.   PERBEDAAN ANTARA ANEMIA DEFISIENSI BESI DENGAN ANEMIA AKIBAT PENYAKIT KRONIK

Anemia Defisiensi Besi
Anemia Akibat Penyakit Kronik
Trait Thalassemia
Anemia Sideroblastik
Derajat anemia
Ringan sampai berat
Ringan
Ringan
Ringan sampai berat
MCV
Menurun
Menurun/
Normal
Menurun
Menurun/
Normal
MCH
Menurun
Menurun/
Normal
Menurun
Menurun/
Normal
Besi serum
Menurun<30
Menurun<50
Normal/Naik
Normal/Naik
TIBC
Meningkat>360
Menurun<300
Normal/Turun
Normal/Turun
Saturasi Transferin
Menurun<15%
Menurun/N 10-20%
Meningkat>20%
Meningkat>20%
Besi sumsum tulang
Negatif
Positif
Positif kuat
Positif dengan ring sideroblast
Protoporfirin eritrosit
Meningkat
Meningkat
Normal
Normal
Feritin serum
Menurun<20 μg/l
Normal 20-200 μg/l
Meningkat>50 μg/l
Meningkat>50 μg/l
Elektroforesis Hb
Normal
Normal
Hb.A2 meningkat
Normal
                                                                                    (I Made Bakta, 2006)


Eritrosit / Sel Darah Merah


A.    SEL DARAH MERAH
Sel darah merah atau eritrosit normal berbentuk lempeng bikonkaf dengan diameter kira-kira 7,8 μm dan ketebalan pada bagian yang paling tebal 2,5 μm serta pada bagian tengah 1 μm atau kurang. Volume rata-rat sel darah merah adalah 90-95 μm3. Bentuk sel darah merah dapat berubah-ubah ketika melewati kapiler. Sesungguhnya, sel darah merah merupakan suatu kantong yang dapat diubah menjadi berbagai bentuk. Karena sel norma mempunyai membaran yang sangat kuat untuk menampung bahan material di dalamnya, perubahan bentuk tadi tidak akan meregangkan membran secara hebat dan tidak akan memecahkan sel.
Pada pria normal, jumlah rata-rata sel darah merah daalah 5.200.000 ± 300.000/mm3 dan pada wanita normal 4.700.000 ± 300.000/mm3. Ketinggian suatu tempat dapat memengaruhi jumlah sel darah merah. Sel darah merah mampu mengonsentrasikan hemoglobin dalam cairan sel sampai 34 gm/d. Bila hematokrit(persentase sel dalam darah) dan jumlah hemoglobin dalam masing-masing sel normal, seluruh darah pria dewasa mengandung hemoglobin 16 g/dl dan pada wanita 14 g/dl.
Fungsi utama dari sel darah merah adalah mengangkut hemoglobin yang selanjutnya mengangkut oksigen dari paru-paru ke jaringan. Selain mengangku hemoglobin, sel adarah merah mengandung banayak karbonik anhidrase yang mengatalisis reaksi antara karbondioksida dan air sehingga meningkatkan kecepatan reaksi bolak-balik ini. Cepatnya reaksi ini membuat air dalam darah dapat bereaksi dengan banyak sekali karbon dioksida. Dengan demikian, mengangkutnya dari jaringan menuju paru-paru dalam bentuk ion bikarbonat. Hemoglobin dalam sel juga merupakan dapar asam basa sehingga sel darah merah bertanggung jawab untuk sebagian besar daya pendaparan seluruh darah.
(Arthur C. Guyton et.al., 1997).

B.     PRODUKSI SEL DARAH MERAH
 Dalam minggu-minggu pertama kehidupan embrio, sel darah merah primitif banyak diproduksi di yolk sac. Selama pertengahan trimester masa gestasi, hati adalah organ utama yang memroduksi sel darah merah meskipun banyak sel darah merah ditemukan dalam limpa dan limfonodus. Lalu selama bulan terakhir kelahiran dan sesudah lahir sel darah merah hanya diproduksi di sumsum tulang. Pada dasarnya sumsum tulang dari semua tulang memroduksi sel darah merah sampai usia 5 tahun, tapi sumsum dari tulang panjang kecuali bagian proksimal humerus dan tibia menjadi sangat berlemak dan tidak memroduksi sel darah merah setelah kurang lebih berusia 20 tahun. Setelah usia ini kebanyakan sel darah merah diproduksi dalam sumsum tulang membranosa, seperti vertebra, iga, dan ilium. Bahkan dalam tulang-tulang ini sumsum menjadi kurang produktif seiring bertambahnya usia.
Dalam sumsum tulang terdapat sel stem hematopoietik pluripoten, yang merupakan asal sel dalam darah sirkulasi. Karena sel darah ini diproduksi terus-menerus sepanjang hidup, ada bagian dari sel-sel ini masih tepat seperti sel-sel pluripoten asalnya dan disimpan dalam sumsum tulang guna memertahankan suplainya. Namun, sebagian sel stem yang direproduksi akan berdeferensiasi membentuk sel lain. Asal sel yang paling mula masih tidak dapat dikenali sebagai suatu sel yang berbeda dari dari stem sel pluripoten, walaupun sel ini membentuk suatu jalur sel khusus disebul stem sel commited. Berbagai sel stem commited bila ditumbuhkan dalam biakan akan menghasilkan koloni tipe sel darah yang spesifik. Sel stem comitted yang menghasilkan eritrosit disebut unit pembentuk koloni eritrosit dan singkatan CFU-E menandai jenis sel stem ini. Unit pembentuk koloni garanulosit dan monosit disingkat CFU-GM.
Sel pertama yang dikenali sebagai bagian dari rangkaian eritrosit adalah proeritroblas. Dengan rangsangan yang sesuai maka dari sel stem CFU-E dapat dibentuk banyak sekali sel ini. Sekali proeritroblas terbentuk, ia akan membelah beberapa kali sampai akhirnya terbentuk eritrosit matur. Sel generasi pertama disebut basofil eritroblas karena dapat dipulas dengan zat warna basa. Pada saat ini, sel mengumpulkan sedikit sekali hemoglobin. Generasi berikutnya, sel sudah dipenuhi hemoglobin dengan konsentrasi 34% sehingga nukleus memadat menjadi kecil dan sisanya terdorong keluar sel. Pada saat yang sama, retikulum endoplasma direabsorbsi. Pada saat ini sel disebut retikulosit karena masih mengandung sedikit bahan basofilik, yaitu terdiri dari sia-sisa aparatus Golgi, mitokondria, dan sedikit organel sitoplasmik lainnya. Selama tahap retikulosit sel berjalan dari sumsum tulang masuk ke dalam kapiler darah dengan cara diapedesis(terperas melalui pori-pori membran kapiler). Bahan basofilik yang tersisa dalam retikulosit normalnya akan menghilang dalam waktu 1-2 hari dan sel menjadi eritrosit matur(Arthur C. Guyton et.al., 1997).
C.    METABOLISME BESI
      Jumlah rata-rata besi dalam tubuh 4-5 gram, 65% dijumpai dalam bentuk hemoglobin, 4 % dalam bentuk mioglobin, 1 % dalam bentuk macam-macam senyawa heme yang meningkatkan oksidasi intraseluler, 0,1 % bergabung dengan protein transferin dalam plasma darah, 15-30 % disimpan dalam sistem retikuloendotelial dalam sel parenkim hati, khususnya dalam bentuk feritin. 
Besi diabsorbsi dari semua bagian usus halus. Hati menyekresi apotransferin dalam jumlah sedang ke dalam empedu yang mengalir melalui duktus empedu ke dalam duodenum. Daalm usus halus, apotransferin berikatan dengan besi bebas dan dengan beberapa senyawa besi, seperti hemoglobin dan mioglobin, membentuk transferin. Transferin tertarik dan berikatan dengan reseptor membran sel epitel usus. Molekul transferi diabsorbsi ke dalam sel epitel dengan cara pinositosis dan dilepaskan dalam sisi darah dari sel lain dalam bentuk transferi plasma. Kecepatan absorbsi besi sangat lambat dengan kecepatan maksimum hanya beberapa mg/hari. Molekul transferi berikatan secara kuat dengan reseptor pada membran sel eritroblas dalam sumsum tulang. Selanjutnya, transferin bersama besi yang terikat masuk kedalama eritriblas dengan cara endositosis. Di sisni, transferin mengirimkan besi secara langsung ke mitokondria, tempat heme disintesis(Arthur C. Guyton et.al., 1997).
D.    SINTESIS HEMOGLOBIN
      Sintesis hemoglobin dimulai dari proeritroblas kemudian dilanjutkan sedikit dalam stadium retikulosit karena ketika retikulosit meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam aliran darah, maka retikulosit tetap membentuk sedikit hemoglobin selama beberapa hari berikutnya. Pertama, suksisnil ko-A yang dibentuk dalam siklus Krebs berikatan dengan glisin untuk membentuk molekul pirol. Empat pirol bergabung untuk membentuk protoporfirin IX yang kemudian bergabung dengan besi untuk membentuk molekul heme. Akhirnya setiap molekul heme bergabung dengan rantai polipeptida panjang yang disebut dengan globin membentuk suatu subunit hemoglobin yang disebut rantai hemoglobin. Tiap atom besi dalam setiap molekul hemoglobin dalam berikatan dengan 1 molekul oksigen(Arthur C. Guyton et.al., 1997).

Leukemia

 A.    SEL DARAH PUTIH

Sel darah putih atau leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari sistem pertahanan tubuh. Leukosit sebagian dibentuk di sumsum tulang(granulosit, monosit, serta sedikit limfosit) dan sebagian lagi di jaringan limfe(limfosit dari sel-sel plasma).setelah dibentuk, sel ini diangkut dalam darah menuju berbagai bagian tubuh untuk digunakan. Manfaat sesungguhnya sel darah putih adalah sesungguhnya ditranspor secara khusus ke daerah yang mengalami infeksi dan peradangan serius. Jadi, sel darah putih menyediakan pertahanan yang cepat dan kuat terhadap setiap bahan infeksius yang ada. Granulosit(neutrofil, eosinofil, dan basofil) dan monosit mempunyai kemampuan khusus untuk mencari dan merusak setiap benda asing yang menyerbu. Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme penyerang terutama dengan cara mencernakannya, yaitu melalui fagositosis. Fungsi utama limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan sistem imun.
Granulosit dan monosit hanya ditemukan pada sumsum tulang. Limfosit dan sel plasma terutama diproduksi dalam berbagai organ limfogen, termasuk kelenjar limfe, limpa, timus, tonsil, dan berbagai kantong jaringan limfoid di mana saja dalam tubuh, terutama dalam sumsum tulang dan plak Peyer di bawah epitel dinding usus. Sel darah putih yang dibentuk dalam sumsum tulang, terutama granulosit, disimpan dalam sumsum sampai mereka diperlukan di sistem sirkulasi. Dalam keadaan normal, granulosit yang bersikulasi dalam seluruh darah kira-kira tiga kali jumlah yang disimpan dalam sumsum. Limfosit sebagian besar disimpan dalam berbagai area jaringan limfoid kecuali pada sedikit limfosit yang secra temporer diangkut dalam darah.
            Sel-sel darah putih mengalami suatu fase proliferasi(pembelahan) mitotik, diikuti oleh fase pematangan. Waktu yang diperlukan bervariasi dari 9 hari untuk eosinofil sampai 12 hari untuk neutrofil. Semua fase ini akan mengalami pertambahn kecepatan selama terjadi infeksi. Di dalam sumsum tulang, setelah sel menjadi matang, sel tersebut menjadi lebih kecil, intinya berbenruk bulat atau oval dan memiliki dua sampai lima lobus, dikelilingi oleh sitoplasma yang mengandung granula halus yang tersebar merat. Granula ini mengandung enzim(seperti mieloperoksidase, muramidase, dan kation protein antibakteri) yang pada degranulasi sel darah putih, membunuh dan mencernakan bakteri. 
Macam-macam sel darah putih, yaitu:
1.      EOSINOFIL
Sel darah putih yang granulanya memiliki afinitas eosin disebut eosinofil. Eosinofil mempunyai fungsi fagosit lemah. Eosinofil kelihatannya berfungsi pada reaksi antigen-antibodi dan meningkat pada serangan asma, reaksi obat-obatan, dan infestasi parasit tertentu.
2.      BASOFIL
Sel darah putih ynag memiliki afinitas terhadap zat warna biru atau basa disebut basofil. Basofil membawa heparin, faktor pengaktifan histamin dan trombosit dalam granula-granulanya untuk menimbulkan peradangan pada jaringan. Kadar basofil yang meningkat(basofilia) ditemukan pada gangguan mieoloproliperatif, yaitu gangguan proliperatif dari sel pembentuk darah.
3.      NEUTROFIL
Neutrofil mempunyai granula yang disebut leukosit polimorfonuklear(PMN) mempunyai afinitas sedikit terhadap zat warna basa atau eosin dan memberi warna biru atau merah muda pucat yang dikelilingi oleh sitoplasma yang berwarna merah muda. Sumsum tulang mempunyai tempat penyimpanan cadngan yang tetap, kapasitasnya 10 kali jumlah neutrofil yang dihasilkan setiap hari. Bila timbul infeksi, neutrofil cadangan dimobilisasi dan dilepaskan ke dalam sirkulasi, di sana sel tersebut berdiam selama 6-8 jam kemudian ke jaringan. Neutrofil dalam sirkulasi dibagi antara kelompok sirkulasi dan kelompok marginal(sel darah putih terletak sepanjang dinding kapiler). Dengan gerakan seperti amuba, neutrofil bergerak dengan cara diapedesis dari kelompok marginal masuk ke dalam jaringan dan membran mukosa. Neutrofil merupakan sistem dalam pertahanan tubuh primer melawan infeksi bakteri. Metode pertahanannya adalah fagositosis.
4.      MONOSIT
Monosit lebih besar dari neutrofil dan memiliki inti monomorfik yang relatif sederhana. Intinya terlipat atau berlekuk dan kelihatan berlobus dengan lipatan seperti otak. Sitoplasma kelihatan jauh lebih banyak dibandingkan intinya dan menyerap warna biru keabuan yang tidak terlalu nyata, granulanya tersebar merata. Diferensiasi, pematangan, dan pelepasan monosit terjadi lebih dari 24 hari(suatu periode yang lebih lama dari granulosit). Monosit meninggalkan sirkulasi dan mejadi makrofag jaringan serta merupakan bagian dari sistem monosit-makrofag. Umur monosit adalah beberapa minggu sampai beberapa bulan. Monosit memiliki fungsi fagosit, membuang sel cedera dan mati, fragmen-fragmen sel, serta mikroorganisme(seperti pada endokarditis bakterial).
5.      LIMFOSIT
Limfosit adalah monosit mononukear lain(monomorfonuklear) dalam darah yang memilki inti bulat atau oval dan dikelilingai oleh pinggiran sitpolasma sempit berwarna biru yang mengandung sedikit granula. Bentuk kromatin inti sarat dengan jala-jala yang berhubungan di dalam. Limfosit bervariasi dalam ukuran, mulai dari kecil(7-10 μm) sampai besar, seukuran granulosit dan tampaknya berasal dari sel induk pluripoten di dalam sumsum tulang dan bermigrasi ke jaringan limfoid lain termasuk kelenjar getah bening, lien, timus, dan permukaan mukosa traktus gastrointestinal serta traktus respiratorius. Terdapat dua jenis limfosit mencakup limfosit T(bergantung timus, berumur panjang, dibentuk dalm timus) dan limfosit B(tidak bergantung timus). Limfosit T bermigrasi dari kelenjar timus ke jaringan limfoid lain. Sel ini secra khas ditemukan pada parakorteks kelenjar getah bening dan lembaran limfoid periarteriola dari pulpa puti lien. Limfosit B tersebar dalam folikel-folikel kelenjar getah bening. Limfosit T bertanggung jawab atas respon kekebalan seluler melalui pembentukan sel yang reaktif antigen, sedangkan limfosit B jika dirangsang dengan semestinya, berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan imunoglobulin. Sel ini bertanggung jawab atas respon kekebalan humoral(Catherine M. Baldy, 2005).

B.     LEUKIMIA
Leukimia adalah proliferasi sel leukosit yang abnormal, ganas, sering disertai dengan bentuk leukosit yang lain dari normal, jumlahnya berlebihan dan dapat menyebabkan anemia dan trombositopenia. Kelainan utama bukan di dalam darah, tetapi pada jaringan, yaitu beberapa jaringan tempat pembentukan sel darah dan kelainan pada jaringan tertentu akibat mengumpulnya sel leukimia.kecepatan proliferasi sel leukimia tidak lebih dari kecepatan proliferasi sel normal. Kelaina utama leukosit pada penderita leukimia adalah pematangannya. Selama tidak matang, sel tersbut mempunyai kemampuan untuk proliferasi. Walaupun proliferasinya lambat, mereka mempunyai sifat immortal sehingga makin lama makin banyak dan menumouk di jaringan. Leukimia menyerang kedua jenis kelamin, tetapi laki-laki terserang sedikit lebih banyak dibandingkan wanita(Zubairi Djoerban et. al, Harryanto 1990). 
1.      ETIOLOGI
a.   Faktor genetik
Jarang ditemukan leukimia familial, tetapi terdapat insiden leukimia yang lebih meningkat sampai 20% pada kembar monozigot(identik). Individu dengan kelainan kromosom, seperti sindrom Down, mempunyai insiden leukimia akut 20 kali lipat.
b.      Faktor Lingkungan
Pejanan dengan radiasi pergion dosis tinggi disertai manifestasi leukimia yang timbul bertahun-tahun kemudian.
c.       Zat-zat Kimia
Benzen, arsen, pestisida, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen antineoplastik meningkatkan frekuensi leukimia, khususnya agen-agen alkil. Leukimia meningkat pada penderita yang diobati dengan radiasi dan kemoterapi.
d.      Virus
Hasil penelitian yang menyokon virus sebgai penyebab leukimia: enzim reverse transcriptase ditemukan dalm darah penderita leukimia. Enzim ini ditemukan dalm virus onkogenik seperti retrovirus tipe C. enzim tersebut membuat viru yang bersangkutan membentuk bahan genetik kemudian bergabung dengan genom sel yang terinfeksi
(Zubairi Djoerban et. al, Harryanto 1990).                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              
e.       Hipoplastik
Setiap keadaan sumsum tulang hipopastik kelihatannya merupakan predisposisi terhadap leukimia. Pasien dengan sindrom mielodiplastik(gangguan sel induk dengan manifestasi adanya blas dan pansitopenia yang ditemukan pada orang dewasa tua) sering berkembang menjadi leukimia nonlimfositik akut.        
(Catherine M. Baldy, 2005).
2.      KLASIFIKASI LEUKIMIA
Klasifikasi leukimia yang paling banyak digunakan adalah FAB(French-American-British). Klasifikasi ini merupakan klasifikasi morfologi yang didasarkan pada diferensiasi dan  maturasi sel leukimia yang dominan dalam sumsum tulang, serta penelitian sitokimia. 

C.    LEUKIMIA AKUT
1.   LEUKIMIA MIELOSITIK AKUT
Leukimia akut yang menyerang rangkaian mieloid disebut Leukimia Nonlimfositik Akut(LNLA) atau Leukimia Mielositik Akut(LMA) atau Leukimia Granulositik Akut. Neoplasma uniklonal dan berasal dari transformasi sel progenitor hematopoietik. Sifat alami neoplastik sel yang sebenarnya telah digambarkan melalui studi molekuler, tetapi defek kritis bersifat intrinsik dan dapat diturunkan melalui progeni sel. Defek kualitatif dan kuantitatif pada semua garis sel mieloid yang berproliferasi pada gaya tak terkontrol dan menggantikan sel normal. Leukimia nonlimfositik akut(LNLA) bertanggung jawab atas 80% leukimia akut pada orang dewasa. Permulaannya mungkin mendadak atau progresif dalam masa 1-3 bulan dengan durasi gejala singkat. Jika tidak diobati, LNLA fatal dalam 3-6 bulan. Leukimia mielositik akut(LMA) ditemukan pada orang dewasa semua umur dan akan meningkat setelah berumur 40 tahun. Umur rata-rata adalah 60 tahun. Diagnosis LMA daapt dibuat berdasarkan gambaran darah tepi, tetapi dibuktikan dengan biopsi danm aspirasi sumsum tulang. Darah tepi dapat menunjukkan mieloblas dalam sirkulasi yang meningkat, normal, atau menurun dan penurunan jumlah granulosit absolut. Jumlah trombosit juga menurun, sering di bawah 50.000. Anemia sednag dapat terjadi. Sumsum tulang umumnya hiperseluler, 30-90% mieloblas mengandung batang Auer. Batang Auer merupakan struktur seperti batang dalam sitoplasma mieloblas dan bersifat diagnostik untuk leukimia mieloid akut. Unsur lain dalam sumsum tulang dapat tertekan. Studi sitogenetik paling sering menunjukkan abnormalitas kromosom. Terdapat perubahan metabolik dengan peningkatan kadar asam urat dan laktat dehidrogenase yang terkait dengan kadar turnover sel darah putih yang tinggi.
Kalsifikasi Leukimia Mielositik Akut
M-0
Berdiferensiasi minimal
M-1
Diferensiasi granulositik tanpa maturasi
M-2
Diferensiasi granulositik dengan maturasi sampai stadium promielositik
M-3
Diferensiasi granulositik dengan promielosit hipergranuler dihubungkan dengan koagulasi intervaskuler diseminata
M-4
Leukimia mielomonosit akut; garis sel monosit dan granulosit
M-5a
Leukimia monosit akut; berdiferensiasi buruk
M-5b
Leukimia monosit akut; berdiferensiasi baik
M-6
Eritroblastosis yang menonjol dengan diseritropoiesis berat
M-7
Leukimia megakariosit
Manifestasi klinis berkaitan dengan berkurangnya sel hematopoietik normal, terutama granulosit dan trombosit. Pasien sering menunjukkan gejala infeksi atau perdarahan atau keduanaya pada waktu diagnosis. Menggigil, demam, takikardi, dan takipnea sering merupakan gejala yang muncul. Infeksi dapat mengenai semua sistem organ. Selulitis, pneumonia, infeksi oral, abses perirektal, dan septikemia merupakan sedikit contoh infeksi yang ditemukan pada populasi ini. Organisme yang paling sering adalah bakteri gram negatif, seperti E. Coli dan pseudomonas, serta infeksi fungus.
Pasien dengan jumlah leukosit meningkat secara nyata dan blas dalam sirkulasi(jumlah lebih dari 200.000/mm3) dapat menunjukkan gejla hiperviskositas. Gejala ini mencakup nyeri kepala, perubahan penglihatan, kebingungan, dan dispnea yang memerlukan leukoforesis segera(pembuangan sel darah putih melalui pemisahan sel) dan kemoterapi yang tepat. Pasien dengan leukimia promielositik yang menampakkan gejla diastesis perdarahan dan leukimia monositik sering menampakkan infiltrasi gusi. Trombositopenia menampakkan perdarahan yang dinyatakan oleh petekie dan ekimosis, epistaksis, hematoma pada membran mukosa, serta perdarahan saluran cerna dan sistem saluran kemih. Tulang mungkin sakit dan lunak yang disebabkan oleh infark tulang atau infiltrat subperiosteal. Anemia bukan merupakan manifestasi awal karena umur eritrosit yang panjang. Jika ditemukan anemia akan ditemukan nyeri kepala, gejala kelelahan, dan dispnea waktu kerja fisik disertai pucat yang nyata.  
Pengobatan pada leukimia mielositik akut dilakukandengan terapi kombinasi yang mencakup antimetabolit Cytosine arabinosid dan antibiotik antrasiklin, seperti daunorubicin hydrocloride, idarubicin, atau mitoxantron. Kombinasi lain mencakup etoposide dan mitoxantrone atau topotecan dan mitoxantrone. Obat antibodi monoklonal, seperti Mylotarg digunakan pada pasien leukimia akut relaps dan menargetkan sel  CD33 positif. Asam transretinoat digunakan sebgai antiakne topikal memungkinkan pematangan sel hematopoietik dengan pencapaian remisi. Pada keadaan relaps, agen oral tersedia dalam uji klinis, yaitu arsenic trioxide(Catherine M. Baldy, 2005).
2.      LEUKIMIA LIMFOSITIK AKUT
Leukimia limfositik akut(LLA) merupakan kanker yang paling sering menyerang anak-anak di bawah 15 tahun dengan puncak insiden 3 dan 4 tahun. Keadaan ini juga terdapat pada orang dewasa semua umur dengan peningkatan bertahap pada umur 60 tahun.
Klasifikasi Leukimia Limfositik Akut
L-1
Leukimia limfositik akut anak-anak; populais sel homogen
L-2
Leukimia limfositik akut pada dewasa; populasi sel heterogen
L-3
Leukimia jenis limfoma Burkitt; sel besar, populasi sel homogen
Manifestasi LLA berupa proliferasi limfoblas abnormal dalam sumsum tulang dan tempat-tempat ekstrameduler(di luar sumsum tulang, seperti kelenjar getah bening dan lien). Diagnosis ditegakkan melalui perhitungan sel darah lengkap, diferensiasi, hitung trombosit, neutrofil, dan sel darah merah rendah. Sumsum tulang biasanya hiperseluler disertai adanya infiltrasi limfoblas. Sitogenetik dan immunotyping juga digunakan untuk menguraikan klon maligna. Karena sistem sarf pusat dapat terlibat, perlu dilakukan analisis cairan spinalis. LLA digolongkan berdasarkan kriteria imunologik CD dengan penanda CD5 dan CD7; antigen LLA yang lazim(cLLA); dikenal sebagai CD10, juga mempunyai gambara CD19 dan TdT; sel B membawa CD19, CD20, CD21, dan CD22. sel nul menggambarkan sel B imatur sehingga tidak memiliki penanda CD yang mengidentifikasi. Manifestasi klinis leukimia limfositik menyerupai leukimia granulositik akut dengan tanda dan gejala dikaitkan dengan penekanan unsur sumsum tulang normal. Karena itu infeksi, perdarahan, dan anemia merupakan menifestasi utama. Sepertiga pasien tampak denagn infeksi dan perxarahan waktu didiagnosis. Malaise. Demam, letargi, dan kehilangan berat badan, serta kehilangan keringat pada malam hari dapat menjadi gejala yang tampak. Karena menyerang daerah ekstrameduler, pasien mengalami limfadenopati(pembesaran kelenjar getah bening), hepatomegali(pembesaran hepar), dan splenomegali(pembesaran lien). Nyeri tulang dan artralgia lebih sering terdapat pada anak-anak. Tanda dan gejala terkena sistem saraf pusat mencakup nyeri kepala, mutah, kejang, dan gangguan penglihatan(Catherine M. Baldy, 2005).   
Salah satu penatalaksanaan untuk leukimia limfositik akut adalah kemoterapi. Kemoterapi diharapkan memiliki toksisitas selektif artinya menghancurkan sel kanker tanpa merusak sel jaringan normel. Umumnya antineoplastik menekan pertumbuhan atau proliferasi sel dan menimbulkan toksisitas karena menghambat pembelahan sel normal yang proliferasinya cepat, seperti sumsum tulang, epitel germinativum, mukosa saluran cerna, folikel rambut, dan jaringan limfosit. Kemoterapi untuk leukimia limfositik akut memakai obat yang masuk golongan cell cycle specific artinya memerlihatkan toksisitas selektif tehadap fase-fase tertentu dari siklus sel, seperti merkaptopurin, asparaginase, metotreksat, dan vinkristin. Zat CSS efektif terhadap kanker yang berproliferasi tinggi, seperti kanker darah.
Kerja antikanker pada proses dalam sel(semua antikanker bersifat sitotoksik):
a.   Merkaptopurin bekerja sebagai antagonis purin. Merupakan antagonis kompetitif dari enzim yang menggunakan senyawa purin sebagai substrat. Alternatif lain dari mekanisme kerjanya adalah dengan pembentukan 6-Metil merkaptopurin yang menghambat biosintesis purin sehingga sintesis RNA, CoA, ATP, dan DNA dihambat.
b.   Asparaginase: suatu enzim katalisator yang berepran dalam hidrolisis asparagin menjadi asam aspartat dan amonia sehingga sel kanker kehilangan asparagin yang berakibat kematian sel.
Terapi kombinasi bertujuan untuk mendapatkan sinergisme tanpa menambah toksisitas, meningkatkan indeks terapi, dan menunda terjadinya resistensi. Syarat terapi kombiansi: masing-masing obat beda mekanisme kerja, beda efek toksik pada dosis maksimal, diberikan pada masa siklus sel pada saat obat paling efektif, dosis oleh penelitian dan pengalaman.Contoh terapi kombinasi:
a.       metotreksat dan asparagin(setelah 24 jam): efek antikanker yang sinergistik terhadap LLA.
b.      Prednison dosis tinggi dipakai dengan satu atau lebih obat(vinkristin, metotreksat, dan 6-merkaptopurin): jumlah pasien yang mengalami remisi dengan terapi kombinasi lebih besar daripada dengan dosis tunggal.
c.       Metotreksat tunggal remisi 20% kombinasi dengan prednison remisi 80%: pemberian metotreksat intratekal ditambah radiasi kepala rutin dilakukan pada LLA untuk mencegah leukimia meningial.
d.      Vinkristin tunggal remisi 50-60% kasus, vinkristin dan prednison remisi 90%.
Terapi penunjang: vinkristin dan metotreksat atau merkaptopurin dan prednison atau metotreksat dan merkaptopurin. Efek nonterapi: sel stem imun yang juga rusak akibat kemoterapi menyebabkan lebih mudah terkena infeksi sehingga mengakibatkan terjadinya sepsis. Prinsip pengobatan: perpanjangan hidup = jumlah sel kanker yang dibasmi = dosis = efek nonterapi. Dosis: asparaginase: Intra Vena, 50-200/kg berat badan/hari dan prednison: oral, 20-100 mg/1-2 hari (Nafrialdi et. al, 2007).

D.    LEUKIMIA KRONIK
1.      LEUKIMIA GRANULOSITIK KRONIK
Leukimia granulositik kronik(LGK) atau Leukimia mielositik kronik(LMK)
 paling sering terlihat pada orang dewasa usia pertengahan, tetapi dapat juga timbul pada setiap kelompok umur. LGK memiliki awitan yang lambat, sering ditemukan waktu pemeriksaan darah rutin atau skrining darah. LGK dianggap sebagai suatu gangguan mieloproliperatif karena sumsum tulang hiperseluler dengan proliferasi pada semua garis diferensiasi sel. Jumlah granulosit umumnya lebih dari 30.000/mm3. Walaupun pematangannya terganggu, sebagian besar tetap menjadi matang dan berfungsi. Basofil dan eosinofil sering ditemukan. Paad 85% kasus terdapat kelainan kromosom disebut kromosom Philadelphia. Kromosom Philadephia merupakan suatu translokasi dari lengan panjang kromosom 22 ke kromosom 9. kelainan kromosom ini memengaruhi sel induk hematopoietik dan karenanya terdapat pada garis sel mieloid, serta beberapa garis limfoid.
Tanda dan gejala  berkaitan dengan keadaan hipermetabolik: kelelahan, penurunan berat badan, diaforesis meningkat, dan tidak tahan panas. Lien membesar pada 90% kasus yang mengakibatkan perasaan penuh pada abdomen dan mudah merasa kenyang. Apabila terdapat anemia, pasien akan mengalami takikardi, pucat, dan nafas pendek. Memar dapat terjadi akibat fungsi trombosit abnormal. Tujuan pengobatan adalh mengurangi kromosom Philadelphia dan BCR-ABL onkogenik yang terbentuk akibat translokasi kromosom 9 ke 22. gen  ini dianggap mencetuskan pertumbuhan sel leukiemik yang tidak terkontrol.
Pengoabatan saat ini dengan kemoterapi intermitten menggunakan hidroksiurea dan alfa-interferon. Uji klinis menggunakan homoherringtonin, suatu alkaloid tanaman dan sitosin arabinosid, suatu antimetabolit terbukti efektif pada 65% oasien. Sebagian besar pengobatan mengakibatkan supresi hematopoiesis dan pengurangan ukuran lien. Interferon mengurangi jumlah sel positif kromosom Philadelphia. Obat oral baru STI 571, inhibitor tirosin kinase telah diuji klinis dengan pasien pada fase agresif penyakitnya. Dengan menghambat tirosin kinase, STI 571 menghambat proliferasi gen BCR/ABL(Catherine M. Baldy, 2005).
2.      LEUKIMIA LIMFOSITIK KRONIK
Leukimia limfositik kronik(LLK) merupakan suatu gangguan limfoproliperatif yang ditemukan pada orang tua( umur median 60 tahun) dengan perbandingan laki-laki:perempuan = 2:1. LLK dimanifestasikan oleh proliferasi dan akumulasi 30% limfosit matang abnormal kecil dalam sumsum tulang, darah perifer, dan tempat-tempat ekstramedular dengan kadar yang mencapai 100.000+/mm3  atau lebih. Pada lebih dari 90% kasus, limfosit abnormal adalah limfosit B dengan penanda CD19, CD20, CD23, dan CD5. karena limfosit B berperan dalam sintesis imunoglobulin, pasien dengan LLK mengalami insufisiensi sintesis imunoglobulin dan penekanan respon antibodi. Studi sitogenetik menunjukkan lebih dari 80% pasien mengalami berbagai perubahan sitogenetik yang mungkin menunjukkan prognosis buruk. Awitannya tersembunyi dan berbahaya serta sering ditemukan pada pemeriksaan darah rutin yang ememrlihatkan peningkatan jumlah limfosit absolut atau karena limfadenopati dan splenomegali yang tidak sakit. Waktu penyakitnya berkembang, hati juga membesar. Pasien yang hanya menderita limfositosis dan limfadenopati dapat beratahan 10 tahun atau lebih. Sekitar 10% pasien mengalami transformais agresif serupa sindrom Richter(limfoma agresif).
Tanda dan gejala serupa dengan LGK menggambarkan keadaan hipermetabolik. Pembesaran organ secara masif menyebabkan tekanan mekanik pada lambung sehingga menimbulkan gejala cepat kenyang, rasa tidak enak pada abdomen, dan buang air besar tidak teratur. Karena sintesis imunoglobulin tidak cukup dan respon antibodi yang tertekan, perjalanannya dipersulit dengan episode rekuren infeksi, yang terutama melibatkan paru dan kulit. Pneumonia sering terjadi, terutama Pneumocytis carinii dan pneumonia pneumokokal. Infeksi kulit virus, seperti herpes zoster sering terjadi.
Pengobatan diindikasikan bila pasien mengalami pansitopenia yang meningkat dengan infeksi, peningkatan lifadenopati dan organomegali, anemia dan trombositopenia akibat penggantian sumsum tulang, serta perubahan kualitas hidup pasien. Pengobatan ditujukan pada pengurangan masa limfositik sehingga membalikkan pansitopenia dan menghilangkan rasa tidak nyaman yang disebabkan oleh pembesaran organ. Agen pengalkil, seperti klorambusil, dan siklofosfamid aktif pada pengobatan LLK. Fludarabin, antimetabolit purin diberikan 3-5 hari sebagai agen tunggal juga efektif digabung dengan agen lain, seperti siklofosfamid jika psien menjadi refrakter(Catherine M. Baldy, 2005).

Striktur Uretra


1.      Anatomi dan Fisiologi Traktus Urogenital
Saluran kemih terdiri dari ginjal yang terus-menerus menghasilkan urine, dan berbagai saluran dan reservoar yang dibutuhkan untuk membawa urine keluar tubuh. Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi kolumna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hepar. Kutub atasnya terletak setinggi iga kedua belas. Sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi iga kesebelas. (Wilson, 2006)
Ginjal mengolah plasma yang mengalir masuk ke dalamnya untuk menghasilkan urin, menahan bahan-bahan tertentu dan mengeliminasi bahan-bahan yang tidak diperlukan ke dalam urin. Setelah terbentuk, urin mengalir ke sebuah rongga pengumpul sentral, pelvis ginjal, yang terletak pada bagian dalam sisi medial di pusat kedua ginjal. Dari situ urin disalurkan ke dalam ureter, sebuah duktus berdinding otot polos yang keluar dari batas medial dekat dengan pangkal (bagian proksimal) arteri dan vena renalis. Terdapat dua ureter yang menyalurkan urin dari setiap ginjal ke sebuah kandung kemih. (Sherwood, 2001)

2.      Gangguan Miksi
a.       Anuria dan Oligouria
Arti sesungguhnya adalah suatu keadaan dimana tidak ada produksi urine dari seorang penderita. Dalam pemakaian klinis diartikan keadaan dimana produksi urine dalam 24 jam kurang dari 100 ml. Keadaan ini menggambarkan gangguan fungsi ginjal yang cukup berat dan hal ini dapat terjadi secara pelan-pelan atau yang datang secara mendadak. Yang datang pelan-pelan umumnya menyertai gangguan ginjal kronik dan biasanya menunjukkan gangguan yang sudah lanjut. Yang timbul mendadak sebagian besar disebabkan gagal ginjal akut, yang secara klinis dipakai bersama-sama dengan keadaan yang disebut oliguria, yaitu keadaan dimana produksi urine dalam 24 jam antara 100-400 ml. Sebab-sebab anuria/oliguria dapat dikelompokkan dalam 3 golongan yaitu: sebab-sebab pre-renal, sebab-sebab renal dan sebab-sebab post-renal.
Anuria prerenal misalnya terjadi pada keadaan hipoperfusi seperti akibat dehidrasi, combustio, perdarahan, trauma yang massive atau sepsis. Anuria pre-renal ini dapat juga disebabkan oleh obstruksi arteri renalis misalnya oleh akibat emboli (fibrilasi atrium), thrombus (atherosclerosis), dan trauma arteri renalis bilateralis. Bendungan kedua vena renalis dapat juga menyebabkan penurunan produksi urine, misalnya akibat kelainan koagulasi, atau penyebaran tumor.
Anuria renal didapatkan pada nekrosis tubuler akut, glumerulonefritis akut, dan pada beberapa keadaan glumerulopati. Sedang anuria post-renal dapat terjadi akibat obstruksi urethra oleh karena striktura, pembesaran prostat, sumbatan kedua ureter misalnya karena trauma atau laparatomi, proses keganasan dalam rongga pelvis dan batu pada saluran kemih. (Rahardjo, 1982)
b.      Poliuria
Poliuria dapat terjadi setelah transplantasi ginjal (Hoang et al, 2010), tirotoksikosis (Wang et al, 2007), atau karena sebab lain. Penyebab lain dari Poliuria adalah:
(Gerber GS, 2007)
c.       Retensi Urin
Retensi urin adalah keadaan dimana penderita tidak dapat mengeluarkan urin yang terkumpul di dalam buli-buli sehingga kapasitas maksimal dari buli-buli dilampaui. (Gardjito, 1994)
Dari studi yang dilakukan oleh Mustonen et al (2001), diketahui bahwa selama terjadi retensi urin akut, serta setelah 1 sampai 6 bulan, albuminuri dapat terdeteksi pada 100%, 92%, dan 54% pasien, dan peningkatan sekresi dari a1-microglobulin pada 52%, 36%, dan 58%. Rata-rata GFR normal selama retensi dan selama follow-up.
3.      Striktur Urethra
Studi yang telah dilakukan oleh Santucci (2004) menunjukkan bahwa 90% pria dengan striktur uretra mengalami komplikasi. Anger et al (2010) melaporkan bahwa terjadi peningkatan persentase pasien dengan striktur uretra yang juga terdiagnosis infeksi traktus urinarius. Selain itu, persentase inkontinensia urin juga meningkat pada pasien dengan striktur uretra.
Striktur uretra dapat disebabkan oleh peradangan atau jaringan parut dari operasi, penyakit, atau cedera. Hal ini juga bisa disebabkan oleh tekanan dari tumor memperbesar dekat urethra, meskipun hal ini jarang terjadi. 
Risiko lainnya termasuk: 
  • Sebuah riwayat penyakit menular seksual (PMS)
  • Setiap alat dimasukkan ke dalam uretra (seperti kateter atau cystoscope)
  • Benign Prostatic Hiperplasia (BPH)
  • Luka atau trauma pada daerah panggul
  • Episode berulang uretritis
Gejala

Pemeriksaan fisik bisa menunjukkan sebagai berikut:

  • Penurunan pancaran kencing
  • urethra Discharge dari uretra
  • Membesar (buncit) kandung kemih
  • Pembesaran atau tender kelenjar getah bening di selangkangan (inguinal) area
  • Pembesaran atau prostat tender
  • Kekerasan (indurasi) di bawah permukaan penis
  • Kemerahan atau pembengkakan penis
Kadang-kadang ujian tidak menunjukkan kelainan.
Tes meliputi:

(Linda J Vorvik, 2010)
Hasil sukses dalam bedah rekonstruksi untuk penyempitan uretra tetap menjadi masalah yang menantang. Untuk dapat memberikan penatalaksanaan yang tepat, penting untuk menentukan etiologi dan karakteristik dari penyempitan. (Koraitim, 2004)
4.      Kateter
Sebuah kateter urin adalah tabung yang digunakan untuk mengeringkan kandung kemih ketika seseorang tidak mampu untuk mengosongkan kandung kemih mereka sendiri. Kateter terbuat dari berbagai bahan, termasuk beberapa yang mengandung lateks dan lain-lain. Kateter ini fleksibel dan paling sering ditempatkan ke dalam kandung kemih melalui uretra. (Boyt, 2004)
Kateter urin per uretra adalah pemasangan kateter yang dimasukkan ke dalam buli-buli (bladder pasien) melalui urethra. Kateter digunakan sebagai alat untuk menghubungkan drainase urin dari bladder ke urin bag atau container.

Indikasi Pemasangan Kateter
Kateterisasi uretra dapat dilakukan untuk diagnosis ataupun sebagai prosedur terapi. Untuk terapi, kateter dimasukkan untuk dekompressi bladder pada pasien dengan retensi urin yang akut atau kronik akibat dari keadaan seperti intravesicular obstruction dari traktus urinarius atau neurogenic bladder. Kateterisasi dan irigasi secara kontinyu mungkin juga diperlukan pada pasien dengan gross hematuria untuk menghilangkan darah dari jendalan darah dari kandung kencing.
Untuk keperluan diagnosis, kateterisasi urethra dilakukan untuk mendapatkan sampel urin yang tak terkotaminasi terutama untuk tes mikrobiologi, untuk mengukur pengeluaran urin pada pasien dengan kondisi kritis, atau pada tindakan operasi, atau untuk mengukur volume residual urin sesudah tindakan invasive, di mana tindakan non-invasif tidak bisa dilakukan. Kateter seharusnya tidak digunakan untuk terapi rutin kontinensia urine, jika mungkin penggunaan tindakan yang non invasive seperti incontinence pads, intermittent catheterization, atau penile-sheath cathethers harus dilakukan untuk menghindari komplikasi dari penggunaan indwelling catheter (kateter menetap). tindakan seperti operasi untuk memperbaiki inkontinensia urin lebih efektif untuk pasien.
Kontraindikasi Pemasangan Kateter
Kontraindikasi kateterisasi uretra adalah adanya urethral injury. Biasanya adanya trauma pada uretra terjadi pada pasien dengan trauma pelvis atau fraktur pelvis. Trauma pada uretra ditandai dengan adanya perdarahan pada meatus uretra, perineal hematoma, dan a ‘high-riding’ prostate gland. Jika dicurigai adanya trauma pada uretra perlu dilakukan urethrography sebelum dilakukan kateterisasi. Kontraindikasi relatif pemasangan kateter uretra adalah adanya striktur uretra, pembedahan uretra atau bladder, atau pada pasien yang tidak kooperatif. (Tim SL FK UNS, 2010)
5.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang diperlukan dapat berupa pemeriksaan laboratorium, endoskopi, maupun pencitraan:
Ø  Ultrasound of the Urethra (USG)
USG dari uretra adalah salah satu metode radiologis dalam mengevaluasi striktur uretra. Sebuah probe USG bisa ditempatkan di sepanjang penis untuk menentukan ukuran dari penyempitan, derajat penyempitan, dan panjang dari penyempitan. Ini adalah metode non-invasif dan biasanya tidak memerlukan persiapan khusus. (Medicinenet, 2011)
Ø  Retrograde Urethrogram
Sebuah urethrogram retrograde memungkinkan kita untuk mengevaluasi kelainan struktural dalam uretra termasuk penyempitan atau kontraktur dan divertikulum. Tes diagnostik ini umum dilakukan pada pasien laki-laki yang diduga mengalami penyempitan uretra. (Latini et al, 2006)
6.      Cuci Darah (Dialisis)
Dialisis didefinisikan sebagai difusi molekul dalam larutan melintasi membran semipermeabel sepanjang konsentrasi gradien elektrokimia. Tujuan utama dari hemodialisis adalah untuk mengembalikan lingkungan cairan intraselular dan ekstraselular yang sesuai karakteristik dari fungsi ginjal normal. Hal ini dilakukan dengan pengangkutan zat terlarut seperti urea dari darah ke dialisat dan pengangkutan zat terlarut seperti bikarbonat dari dialisat ke darah. (Himmelfarb, 2010)